Senin, 11 Oktober 2010

TIPS MEMILIH KONTRAKTOR LIFT YANG TEPAT

Pemilihan barang dan jasa pendukung dalam suatu proyek konstruksi sangat menentukan keberhasilan proyek tersebut. Barang dan jasa yang dipilih harus merupakan suatu pilihan yang memiliki kualitas yang sesuai dengan target fungsi dari bangunan / gedung tersebut.

Suatu barang / jasa yang memiliki harga tinggi belum tentu tepat digunakan pada suatu proyek tertentu, bahkan dapat dikatakan jika barang/jasa yang memiliki harga terlalu tinggi dibandingkan fungsi standard yang diperlukan suatu proyek pembangunan gedung adalah merupakan kegagalan dari manajemen pembelian karena terdapatnya “redundancy” atau beban lebih yang seharusnya dapat dihindari.

Demikian pula halnya dalam pemilihan kontraktor lift yang tepat dalam suatu proyek konstruksi gedung, harus lah dilakukan sehingga kontraktor yang terpilih adalah kontraktor yang efektif dan efisien untuk standard bangunan tersebut.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan kontraktor lift yang tepat adalah sebagai berikut :
  1. Visi dari dan konsep dari bangunan / gedung yang sedang dibangun harus jelas, fungsinya untuk apa, siapa yang akan menghuni gedung tersebut, bagaimana mereka menghuni gedung tersebut, dan sebagainya. Jawaban dari pertanyaan 5W + 1H akan cukup mendeskripsikan konsep dari gedung yang sedang dibangun.
  2. Jika konsep gedung sudah jelas, maka akan diketahui besarnya anggaran (budget) yang diperlukan dan berapa persen dari total budget proyek yang dialokasikan untuk lift.
  3. Sesuaikan dan selaraskan system lift yang akan dipilih dengan konsep dari gedung tersebut. Sebesar apa alokasi anggaran untuk lift dan sejauh mana kualitas yang diinginkan dari system lift yang akan dipasang.  
  4. Undanglah beberapa calon kontraktor lift untuk menawarkan system lift pada proyek pembangunan gedung yang sedang dilakukan. 
  5. Lakukanlah “seleksi administrasi” kepada penawaran harga yang sudah masuk tersebut. Misal dengan mempelajari dan memeriksa company profile, project list dan track record dari kontraktor tersebut (misal dengan googling) atau bertanya kepada kenalan yang pernah menggunakan jasa / membeli barang dari kontraktor yang bersangkutan. 
  6. Setelah melakukan seleksi administrasi, lakukanlah seleksi teknis, bandingkanlah spesifikasi teknis dari lift yang ditawarkan. Bisa jadi perbedaan harga yang mencolok adalah dikarenakan spesifikasi lift yang tidak “apple to apple”. Untuk proyek-proyek besar, disinilah peran konsultan ME diperlukan, untuk melakukan evaluasi teknis dan mereview penawaran yang masuk. Untuk proyek dengan skala kecil, misalkan homelift, owner harus sedikit belajar tentang spesifikasi teknis supaya spesifikasi lift yang ditawarkan sesuai dengan keinginan, missal dari sisi safety nya yang harus dilengkapi. Pada banyak kasus, konsumen yang awam sangat tergiur dengan harga yang murah dalam penawaran suatu produk lift, apalagi jika merek lift yang ditawarkan termasuk merek yang sudah banyak dikenal. Sebaiknya pelajari lagi alasan teknis apa yang menyebabkan harga murah tersebut, karena bisa jadi spek yang dikurangi adalah yang berkaitan dengan safety dari sistem elevator tersebut. Untuk kasus di Indonesia, karena belum ada badan pemerintah yang secara khusus membuat regulasi di bidang lift, maka banyak kontraktor nakal yang mengorbankan spek hanya untuk mengejar volume penjualan. DItambah lagi dengan persaingan yang ketat dalam hal harga lift dimana di Indonesia ada lebih dari 30 merek lift yang beredar di pasaran, membuat owner harus ekstra hati – hati dalam mempelajari spesifikasi lift sebelum memutuskan untuk menggunakan merek tertentu. 
  7. Lakukanlah “pengujian” kepada tenaga penjualan dari kontraktor lift untuk melakukan presentasi mendetail tentang produk yang dia jual. Presentasi tidak harus dilakukan secara formal, tapi bisa secara santai dimana anda menanyakan pertanyaan-pertanyaan kunci kepada tenaga penjual (salesperson) yang bersangkutan. Seorang sales engineer lift yang baik seharusnya sangat menguasai product knowledge dan bersikap konsultatif bukannya provokatif. 
  8. Setelah melakukan seleksi teknis, luangkanlah waktu untuk mengunjungi lift dari merek yang ditawarkan yang telah terpasang di beberapa gedung. Hal ini akan sangat membantu dalam pertimbangan pemilihan merek / kontraktor lift yang tepat. Pada kunjungan anda, anda dapat bertanya langsung kepada sales engineer / teknisi yang mendampingi anda dan dapat juga mengambil gambar. Cobalah lift secara naik dan turun serta membuka dan menutup pintu. Gerakan lift harus terasa smooth, tidak terdapat hentakan dan waktu menungggu lift haruslah tidak terlalu lama. Kunjungilah ruang mesin dari lift, perhatikanlah kerapihan pemasangan mesin, panel control dan asesoris lainnya. 
  9. Setelah anda melewati tahap – tahap di atas tentunya anda masih ingin melakukan neggosiasi terakhir dengan beberapa kandidat kontraktor yang sudah masuk short list anda. Dari hasil negosiasi ini anda dapat melakukan evaluasi ulang kelebihan dan kekurangan masing – masing kontraktor dari sisi komersil (harga, cara pembayaran, dll), sisi teknis (safety, estetika, kenyamanan,dll), dan after sales service (free maintenance, masa garansi, emergency call,dll). 
  10. Jika semua langkah ini anda lewati dengan benar dan anda telah membuat keputusan, maka anda telah menginvestasikan uang anda secara benar karena memiliki alasan yang kuat dan anda akan terhindar dari kerugian - kerugian moriil dan materiil setelah lift terpasang pada proyek anda.

Protected by Copyscape DMCA Copyright Protection

Sabtu, 09 Oktober 2010

TIPS PEMILIHAN SISTEM ELEVATOR PADA EXISTING BUILDING

Pemilihan sistem elevator pada gedung yang sudah jadi (existing building) jauh lebih sulit daripada pemilihan sistem elevator pada proyek pembangunan gedung yang baru.

Hal-hal yang perlu diketahui dalam pemilihan sistem elevator pada existing building antara lain sebagai berikut :
  1. Apakah elevator yang akan dipasang diperuntukkan untuk orang, atau barang atau kedua - duanya. Jika lift diperuntukkan sebagai lift penumpang/orang, maka tipe mesin penggerak yang harus dipilih adalah mesin traksi, bisa mesin traksi dengan gearbox ataupun tanpa gearbox (gearless). Akan tetapi jika lift hanya diperuntukkan sebagai lift barang, maka mesin penggerak yang dapat dipilih adalah chain hoist / wire rope hoist dengan harga yang lebih murah namun dengan tingkat keamanan di bawah mesin traksi. Penentuan peruntukkan lift ini juga akan berpengaruh kepada pemilihan finishing dari cabin/car, tipe pintu dan lain sebagainya.
  2. Harus diketahui dan diukur dengan jelas ukuran ruang tersedia untuk shaft/hoistway lift. Ukuran ruang tersebut akan menentukan ukuran cabin yang memungkinkan untuk dipasang. Penentuan ukuran cabin secara tidak langsung akan menentukan kapaitas dari lift yang akan dipasang karena lift dengan kapasitas tertentu meiliki ukuran cabin standard tertentu. Jika owner telah mentukan kapasitas dari lift yang akan dipasang, maka harus dicek apakah ruang yang tersedia sesuai dengan kapasitas lift yang diinginkan, jika ukuran ruang shaft tersebut tidak sesuia maka dapat disarankan kapasitas lift yang mendekati kapasitas semula yang diinginkan dan sesuai dengan ukuran ruang yang tersedia.
  3. Harus dipastikan bahwa lantai dasar pada ruang yang diperuntukkan untuk shaft lift masih dapat digali untuk pit lift. Kedalaman pit standar biasanya sekitar 1,5 m (untuk kecepatan lift 60 m/m) dan ketebalan cor sekitar 20cm, sehingga harus dapat dipastikan lantai tersebut masih dapat digali dengan kedalaman 1.7m yang akan dipergunakan sebagai pit lift. Kasus yang sulit ialah jika dibawah pit terdapat pondasi / pile cab sehingga kedalaman galian tidak dapat mencapai kedalaman minimal. Jika lokasi shaft lift tidak dapat dipindahkan , maka harus dipilih sistem lift yang hanya memerlukan kedalam pit yang tidak terlalu dalam, misal machine room less lift.
  4. Harus diukur ketinggian dari lantai paling atas ke dak atap. Ukuran ini adalah ukuran overhead dari lift dan harus dipastikan memenuhi ukuran overheas minimum. Jika ukuran overhead existing tersebut kurang dari overhead minimum, maka harus dibuatkan panggungan di lantai ruang mesin. Ukuran overhead minimum untuk sistem lift dengan ruang mesin dan kecepatan 60 m/m adalah sekitar 4m. Jika tinggi overhead yang tersedia hanya 3.5m, maka harus dibuatkan panggungan setinggi 50cm pada lantai ruang mesin sehingga didapatkan overhead 4 m.
  5. Harus dipastikan apakah di atas dak atap masih dapat dibangun ruang mesin, biasanya tinggi ruang mesin minum sekitar 2m, sehingga, jika ketinggian overhead sebesar 4 m, maka tinggi dari lantai paling atas ke slab atap ruang mesin adalah 6m. Kasus yang sulit ialah jika di atas dak atap tidak diperbolehkan untuk dibuat ruang mesin misal dikaenakan IMB ataupun karena alasan estetika, maka solusi yang dapat diambil ialah sistem lift machine room less (tanpa ruang mesin).
  6. Harus diketahui dengan jelas apakah pada dinding shaft sudah terdapat ring balok diantara lantai. Ring balok antara diperlukan sebagai dudukan braket rail. Biasanya pada existing building riang balok anatara belum ada, hal ini dikarenakan desain awal ruang tersebut tidak diperuntukkan sebagai shaft lift, sehingga yang ada hanya balok lantai saja. Jika ring balok antara belum ada maka harus dipastikan apakah memungkinkan untuk ditambahkan ring balok tambahan pada struktur existing. Biasanya ring balok antara dari UNP/IWF merupakan solusi yang praktis untuk dipasang pada existing building.
  7. Owner harus menegaskan lingkup kerja dari kontraktor lift, apakah pekerjaan lift termasuk pekerjaan sipil dan listril ataukah terpisah. Jika pekerjaan sipil dan listrik terpisah maka harus dipastikan koordinasi antar kontraktor lift dan kontraktor sipil dan listrik berjalan dengan baik. Pada esisting building, biasanya pekerjaan sipil cukup banyak, diantaranya memastikan struktur shaft sesuai dengan kebutuhan lift, penggalian dan pengecoran pit, pembobokan lantai, penambahan ring balok antara, perapihan dan lain sebagainya.
  8. Untuk pekerjaan listrik, perlu diketahui alokasi daya listrik tersedia untuk lift dan posisi panel induk dari gedung. Hal ini diperlukan untuk penarikan kabel power listrik 3 phase ke shaft lift sampai dengan sub panel di ruang mesin. Pekerjaan listrik diantaranya tersiri dari : penyediaan dan penarikan kabel power, pengadaan sub panel listrik, penerangan di ruang mesin, stop kontak, saklar, dan pengadaan dan pemasangan exhaust fan / AC di ruang mesin.
  9. Perlu ditentukan tipe pintu lift yang akan dipasang, apakah pintu otomatis ataukah pintu manual. Hal ini berpengaruh kepada konstruksi sipil disekitar pintu dan juga ketersediaan ruang di lobi lift.

Keberhasilan dari pemilihan sistem elevator yang tepat untuk existing building dapat dinilai dari beberapa parameter sebagai berikut :

  1. Pemanfaatan ruang shaft yang optimal, sehingga didapatkan kapasitas optimal dari lift yang dipasang. Pada ruang shaft tidak terdapat banyak ruang kosong sehingga tidak diperlukan adanya "additional beam" untuk dudukan braket rail
  2. Tipe mesin penggerak yang sesuai dengan peruntukkan lift sehingga diperoleh sistem yang optimal dan ekonomis. Untuk lift barang dapat dipilih chain/rope hoist yang lebih murah dari traction machine. Namun jangan sekali-kali memilih hoist untuk lift penumpang, karena hal tersebut tidak sesuai standar dan membahyakan pemunpang.
  3. Posisi mesin dan ruang mesin yang optimal. Jika masih dimungkinkan, maka posisi mesin yang paling optimal adalah di atas shaft dan di dalam ruang mesin. Posisi mesin di bawah (bottom traction) akan memboroskan pemakaian wire rope dan sistem machine room less (tanpa ruang mesin) biasanya memerlukan biaya yang lebih mahal jika dibandingkan dengan tipe machine room.
  4. Pemilihan tipe pintu lift yang optimal. Jika frekuensi penggunaan lift sangat sedikit (misal pada homelift) atau jika faktor estetika tidak menjadi persoalan (lift barang), maka tipe pintu yang ekonomis untuk dipilih adalah tipe pintu manual (swing/ harmonika). Namun jika frekuensi pemakaian lift dan faktor estetika menjadi pertimbangan (misal lift kantor/lift rumah sakit), maka tipe pintu otomatis sebaiknya dipilih.
Jika dimungkinkan, untuk menghemat pekerjaan sipil dan untuk kebebasan desain lift, sebaiknya struktur shaft lift dibangun di luar gedung dan menempel pada existing building. Dengan demikian dapat dihilangkan biaya pembobokan lantai, pembobokan dak atap dan penggalian lantai yang harus disapkan jika shaft lift yang tersedia berada di dalam gedung. Selain penghematan dalam pekerjaan sipil, pembuatan shaft lift di luar gedung juga tidak akan mengganggu aktifitas pada existing building dan dapat memberikan kebebasan desain lift, misal kapasitas, finishing shaft dan dinding lift (misal dengan kaca) sehingga dapat diperoleh nilai estetika yang lebih tinggi.

Protected by Copyscape DMCA Copyright Protection